Ada
Simulfiks dalam Perbincangan Kita
Bagi orang zaman
sekarang, terutama orang muda pasti tidak asing dengan istilah “ngopi” yang
berasal dari kata dasar “kopi”. Begitupun ketika sedang ada momen pemilu,
orang-orang pasti akan ramai membincangkan “nyoblos”, dari kata “coblos”. Atau
bahkan ketika kita sedang parkir mobil, kita sering mendengar para petugas
parkir berkata “nganan” atau “ngirri” yang berarti “ke kanan” atau “ke kiri”.
Lalu sebenarnya ada apa dengan kata-kata tersebut sehingga dapat dilebur
seperti demikian?
Nah, hal itulah yang
menjadi focus pembicaraan kita kali ini. Jawaban dari pertanyaan yang
dilontarkan tadi yaitu karena adanya simulfiks. Bagi orang awam, jarang sekali
yang mengetahui simulfiks, bahkan bagi mahasiswa sekalipun. Mungkin hanya
mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang tidak asing dengan kata ini.
Pada hakikatnya, simulfiks merupakan salah satu dari jenis afiks. Simulfiks ini
berbeda dengan afiks-afiks yang lain yang mempunyai suku kata yang jelas. Afiks
jenis ini lebih merupakan suatu proses peleburan kata seperti “mengopi” yang
berarti minum kopi menjadi “ngopi” dengan arti yang sama. Dengan demikian,
dapat ditarik simpulan bahwa simulfiks adalah suatu afiks yang tidak berbentuk
suku kata lain tetapi langsung dileburkan pada kata dasar atau dasar. Misalnya,
“minum kopi” menjadi “ngopi”, “mencoblos” menjadi “nyoblos”, dan lain
sebagainya.
Ada banyak sekali
simulfiks yang bertebaran di sekeliling kita. Hanya saja kita tidak sadar bahwa
hal itu adalah simulfiks. Contoh-contoh yang diberikan di atas hanyalah
sebagian kecil. Masih banyak lagi contoh-contoh yang ada di sekitar kita. Jadi,
sudah siapkah kalian untuk mencari contoh-contoh tersebut?